Rabu, 25 Mei 2016

MAKSUD PENCIPTAAN SIANG DAN MALAM


Allah telah menjelaskan dalam ayat-ayat  Al-Qur’an tentang kekuasaan-Nya menciptakan siang dan malam. Di antaranya tertuang dalam surah Ali Imran ayat 190-191.
إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ﴿ە۱۹﴾ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًۭا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).
Bumi beredar pada orbitnya sekali setiap 24 jam, atau sekitar seribu mil sejam. Kalaulah bumi kita hanya beredar sejauh seratus mil sejam, maka ketika itu, malam dan siang yang sekarang kita alami akan lebih panjang puluhan kali dari keadaannya sekarang ini. Dan bila itu terjadi, maka matahari musim panas bisa membakar semua tumbuhan di siang hari, dan pada malamnya akan membekukan semua tumbuhan bumi, bahkan menggigilkan semua makhluk hidup.
      Perbedaan malam dan siang merupakan salah satu gejala alam di mana semua makhluk di bumi tidak dapat mengelak darinya. Jumlah masa siang dan malam sama dengan satu masa rotasi bumi pada porosnya dari barat sampai timur.Panjang durasi waktu siang berbeda dari satu tempat ke tempat lain dan tergantung pada musim. Perbedaan kedua menyangkut beberapa gejala alam yang muncul akibat interaksi antara sinar matahari dengan kandungan sinar positif, visibel dan tak visibel, dengan partikel-partikel yang mengalirkan listrik, atmosfer, permukaan laut, sahara dan lain-lain. Selain itu, gejala tersebut dapat juga berbentuk gerhana matahari, bulan, bintang berekor, planet dan meteor yang pada siang hari tidak terlihat karena tertutup oleh sinar matahari yang sangat terang. Letak perbedaan yang paling menonjol antara siang dan malam adalah adanya cahaya pada siang hari yang disebabkan oleh pancaran sinar langsung matahari yang jatuh pada atmosfer yang terdiri atas molekul-molekul dan mengandung atom-atom debu. Sinar itu kemudian terefleksi dan terpancar ke seluruh penjuru.
Perbedaan-perbedaan itu tidak mungkin dilakukan oleh tangan-tangan manusia. Itu demikian teratur dan terkendali sehingga ada wujud Yang Maha Kuasa yang mengaturnya. Pengendali dan pengatur itu tidak lain kecuali Allah swt. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Sumber : http://buktiilmiahalquran.blogspot.co.id/2014/04/rahasia-di-balik-siang-dan-malam.html
http://tafsirq.com/32-as-sajdah/ayat-4

TUJUAN DICIPTAKAN GUNUNG

وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ
“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung serta Kami tumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Hijr : 19)



Ayat ini adalah termasuk ayat yang mengandung bukti ilmiah diantaranya yaitu gunung yang berdiri kokoh di bumi adalah berfungsi sebagai pemancang. Para ilmuwan ada yang meragukan tentang peran gunung-gunung sebagai pemancang/pasak bumi. Namun setelah sekitar pertengahan 1960-an keraguan itu kian terkikis dengan adanya penemuan yang menyingkap kenyataan, bahwa pada lapisan kerak bumi terdapat rekahan-rekahan dengan bentangan mencapai puluhan ribu kilometer berkisar 65 hingga 150 kilometer. Rekahan ini menyebabkan lapisan kerak bumi terbelah menjadi lempengan-lempengan yang saling berpisah. Karena berada di atas lapisan asthenopher yang lembek, plastis, sangat padat, dan bertemperatur tinggi, lempengan-lempengan ini seakan mengapung. Saat yang sama, arus konveksi pada asthenospher membuat lempengan-lempengan bergerak ; ada yang menjauh, ada yang bertabrakan, ada pula yang bersinggungan. Pada lempeng yang bertabrakan (interaksi konvergen) maka salah satu lempeng itu menghujam ke bawah sedangkan yang lainnya menggumpal keatas membentuk tonjolan sebagaimana yang kita lihat gunung-gunung di permukaan bumi. Panjang hujaman yang ada dibawah gunung lebih panjang dibanding ketinggian gunung yang ada pada permukaan bumi.

Ulasan diatas memperjelas akan bukti kebenaran firman Allah swt. Lempengan yang menghujam ke bawah hingga rekahan terdalam (mengakar hingga perut bumi). Hal itu menunjukkan bahwa gunung adalah sebagai pemancang, yang dibalik itu semua terdapat manfaat. Allah berfirman 

وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
 “Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu..” (QS. An-Nahl/16: 15)

Ayat ini merupakan penjelasan dari beberapa ayat yang menguraikan tentang fungsi gunung. Berbagai arti seperti pemancang, pasak bumi disematkan tentang peran gunung dibumi tapi pada intinya sama. Kedudukan gunung-gunung pada dasarnya adalah menancap hingga ke kedalaman yang teramat dalam. Keadaan yang menancap ini memberikan peran yang bermanfaat di bumi.

            Potongan ayat 15 disebutkan “menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu” gunung yang telah menancap tersebut memberikan peran besar bagi kehidupan manusia di bumi. Gunung yang menancap terdapat fungsi seperti yang telah disebutkan pada ayat “agar bumi itu tidak goncang” dari situ para peneliti menegaskan secara ilmiah tentang kebenaran itu. Gunung meredam guncangan akibat rotasi dan gerak presisi sumbu bumi. Bentuk bumi yang tidak bulat, tapi agak lonjong: menggelembung di sepanjang garis khatulistiwa dan memimpih di bagian kutubnya. Bentuk demikian disebabkan oleh gerakan rotasi bumi pada sumbunya. Bentuk bumi yang lonjong ini pula mengakibatkan gerakan rotasi bumi goyah/mirirng (seperti putaran gansing). Gerakan ini dikenal dengan kitaran presisi. Ditambah lagi, kekuatan gravitasi matahari dan bulan menyebabkan gerak rotasi bumi semakin limbung dan menimbulkan banyak guncangan.

Sumber : http://buktiilmiahalquran.blogspot.co.id/2016/03/rahasia-penciptaan-gunung.html

Minggu, 22 Mei 2016

LARANGAN BERBUAT SYIRIK

Secara bahasa (etimologi ) syirik berasal dari bahasa arab “syaraka ( شرك )”  , yang artinya menyekutukan atau menduakan dengan sesuatu yang lain. Adapun secara istilah (terminologi), syirik adalah menjadikn adanya tuhan selain allah SWT. Dalam bentuk perbuatan. Menurut kajian akidah, syirik artinya menyekutukan sesuatu dengan Allah dalam sifat, zat, dan af’alnya.
Hal ini sebagaimana keterangan ayat berikut :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." ( Q.S. An-Nisa’ : 48 )

Disebut juga dalam Al-Qur'an surah An-nisa ayat 36 berikut :

 وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." ( Q.S. An-Nisa:36 )

Macam-macam syirik

    Syirik merupakan sikap yang memiliki kadar atau kualitas tertentu yang dihubungkan dengan jenisnya. Secara umum, syirik dibagi menjadi dua jenis, syirik akbar dan syirik asgar.

  • syirik akbar 
syirik akbar yaitu perbuatan syirik yang mengakibatkan pelakunya keluar dari agama islam, karena telah memalingkan keesaan Allah, dengan sesuatu yang lain. Sebagian contohnya adalah taat dan patuh kepada makhluk melebihi kepatuhannya kepada Allah swt. 

  • syirik asgar 
    Yaitu perbuatan syiryk kecil tidak langsung membatalkan nilai-nilai keimanan ( akidah ) seorang muslim. Namun, perbuatan tersebut mengantarkan seseorang pada syirik akbar. Ada dua bentuk syirik kecil, yaitu sebagai berikut :

  1. Syirik kecil yang tampak ( dzahir ). syirik dzahir yaitu jika seorang mengerjakan amal atau ibadah dengan riya, tidak ikhlas dalam melakukan ibadah, atau bersumpah dengan menggunakan kalimat selain Allah. Diantara perilaku yang mencerminkan syirik dzahir yaitu bersumpah atas nama selain Allah.
  2. syirik kecil yang samar atau tersembunyi ( khafi ). syirik kecil khafi yaitu perbuatan yang kadang-kadang terjadi dalam perkataan atau perbuatan manusia tanpa disadari bahwa itu syirik. contohnya, perbuatan ibadah yag ingin dilihat atau dipuji orang lain, yang datangnya dalam hati atau niat bukan karena Allah.

Jumat, 20 Mei 2016

TUMBUHAN BIJI-BIJIAN


 إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَىٰ ۖ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ
Sungguh, Allah yang menumbuhkan butir (padi-padian) dan biji (kurma). Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Itulah (kekuasaan) Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?.” (QS. Al-An’am : 95)

Dalam ayat ini jelas-jelas menunjukkan sisi kemukjizatan Al-Qur’an terhadap informasi yang disampaikannya. Sebab pada dasarnya ayat ini membahas tentang siklus makanan dan kehidupan tumbuh-tumbuhan. Pada penggalan ayat yang artinya “Sungguh, Allah yang menumbuhkan butir (padi-padian) dan biji (kurma).” atau yang diartikan “Allah adalah Pembelah butir dan biji” dalam tafsir Al-Misbah merupakan isyarat tentang betapa kuasa Allah menciptakan biji dan embrionya dalam tempat yang sempit. Sedangkan bagian lain dari biji tersebut terdiri dari zat terakumulasi yang tidak hidup yang menjadi sumber makanan embrio sebelum akhirnya menjadi tunas dan dapat memenuhi makanannya sendiri dengan akarnya. Dan setelah embrio tersebut menjadi tunas, tumbuh, dan berbuah yang juga menghasilkan biji-bijian lagi dari buahnya, maka kehidupan tumbuhan tersebut pun berputar dan demikian seterusnya sebagaimana diisyaratkan selanjutnya pada penggalan ayat ini.




Pada penggalan ayat selanjutnya disebutkan bahwa “Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup” oleh Harun Yahya dijelaskan bahwa ketika makhluk hidup mati, dengan cepat mikroorganisme – dalam hal ini bakteri – bekerja menguraikan sampah organik berupa tanaman mati dan bangkai binatang menjadi molekul-molekul organik. Molekul organik tersebut kemudian bercampur dengan tanah dan membentuk sumber utama makanan untuk tanaman, binatang, dan pada akhirnya manusia. Dan ciptaan Allah yang lainnya, yaitu matahari, dengan sinarnya selanjutnya menjalankan perannya dari zat-zat non organik yang telah diuraikan tersebut dan menghasilkan zat berupa hydrogen, nitrogen, karbondioksida, dan garam diubah menjadi zat organik sehingga dapat bermanfaat bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Kamis, 19 Mei 2016

ANGIN SEBAGAI PENGAWINAN TUMBUHAN

وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ

Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS. Al-Hijr : 22)

Dalam ayat ini ditekankan bahwa fase pertama dalam pembentukan hujan adalah angin. Hingga awal abad ke-20, satu-satunya hubungan antara angin dan hujan yang diketahui hanyalah bahwa angin menggerakkan awan. Namun, penemuan meteorologi modern telah menunjukkan peran “mengawinkan” dari angin dalam pembentukan hujan.

Para ilmuwan menjelaskan bahwa kadar air di awan sangatlah sedikit, hanya 2% dari total air yang melayang-layang di atmosfer. Sementara itu, jumlah air yang melayang di atmosfer tidak lebih dari 0,036% dari total air yang ada di bumi. Artinya, kadar air yang ada di awan tidak lebih dari 0,00072% dari keseluruhan air yang ada di bumi. Pada lapisan atmosfer, air yang melayang berbentuk partikel-partikel kecil, sedikit lebih besar daripada micron (kurang dari 0,001 milimeter). Partikel-partikel air itu lantas menempel di udara. Lama kelamaan partikel air yang menempel di udara semakin banyak sehingga membentuk awan-awan kumulus. Dibantu embusan angin, awan-awan kumulus itu “dikawinkan”, yang terjadi ketika dua awan kumulus bersatu. Salah satu awan kumulus itu bersuhu panas dan yang lainnya bersuhu dingin; atau satu di antaranya bermuatan listrik positif dan yang lainnya bermuatan listrik negatif. Proses pembentukan awan juga bisa terjadi dengan perantaraan butiran-butiran debu yang diterbangkan angin dari permukaan bumi. Butiran-butiran debu itu memerangkap partikel air di udara yang kemudian membentuk awan. Melalui embusan udara vertikal, awan itu semakin besar hingga ketika embusan udara vertikal tidak lagi mampu menopang awan, turunlah hujan, dengan izin Allah.

Dengan demikian, tampak jelas bahwa turunnya hujan tidak terjadi begitu saja secara kebetulan. Ada kekuatan yang mengatur dan menempatkan faktor-faktornya ke dalam sebuah mekanisme yang sangat rapi. Mekanisme itu menjadi sangat rumit jika kita berbicara tentang lokasi dan besarnya curah hujan. Semua ini menunjukkan bahwa seluruh mekanisme itu berjalan sesuai dengan kehendak Allah.

Senin, 16 Mei 2016

HARAMNYA DAGING BABI


Pada surah Al-Baqarah ayat 173 

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

 Allah swt. melarang salah satunya memakan daging babi. Melihat perintah pengharaman tersebut ternyata setelah perkembangan peralatan kedokteran dan pengujian laboratorium cukup canggih, diketahui  bahwa daging babi sarat dengan parasit yang terkandung dalam tubuhnya yang mana itu sangat membahayakan bagi kesehatan manusia. Dilihat dari kehidupannya binatang ini secara alamiah bukanlah binatang yang hidup dengan bersih. Babi sering bermain-main dengan kotorannya sendiri, bahkan memakannya.
Dalam suatu sumber dijelaskan, fakta bahwa angka peningkatan obesitas rata-rata di negara Amerika Serikat dan Jerman yang tingkat mengkonsumsi daging babi sangat tinggi, dan diketahui bahwa dalam daging babi terdapat cacing trichinia. Cacing yang sering ditemukan dalam babi ini jika masuk dalam tubuh manusia dengan segera cacing ini akan hinggap dalam otot jantung dan menjadi ancaman mematikan bagi manusia. Meskipun sekarang telah dikembangkan teknik mendeteksi cacing trichinia pada babi, teknik ini belum ditemukan pada abad sebelumnya. Dengan demikian siapa pun yang mengkonsumsi babi memiliki resiko terinfeksi trichinia dan kematian.
Semua ini hanyalah sebagian alasan di balik hikmah yang ada dari pelarangan mengkonsumsi babi. Adapun yang lebih pentingnya adalah, perintah Allah yang menunjukkan pelarangan ini memberikan perlindungan sepenuhnya bagi manusia dari bahaya daging babi.
Al-Qur’an yang diturunkan 14 abad yang lalu telah memperingatkan bahaya yang ditimbulkan dari mengkonsumsi daging babi. Fakta ini baru terungkap secara ilmiah pada abad sekarang, setelah alat-alat modern ditemukan. Hal ini menunjukkan bukti bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah swt. yang penuh keajaiban dan kebenaran.

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA ENAM MASA

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf : 54)

Ayat diatas merupakan bukti keselarasan antara AL-Qur’an dan sains modern. Jika dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa “Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa”, sedang dalam pandangan sains, yaitu menurut para ahli kosmologi memperkirakan usia penciptaan langit dan bumi adalah 16 hingga 17 miliar tahun. Kedua pernyataan redaksi ini tampak bertentangan, namun jika dilakukan telaah pada beberapa teori dari pakarnya, salah satunya Einstein, mengemukakan bahwa waktu adalah sesuatu yang relatif yang mana besaran waktu berubah-ubah menurut ruang, kecepatan orang bepergian, dan gaya gravitasi pada saat itu. Jika disesuaikan dengan redaksi Al-Qur’an, ini berarti periode enam hari tersebut dapat dianggap sebagai enam periode. Karena, mengingat relativitas waktu, satu “hari” mengacu hanya pada periode 24 jam yang dialami di Bumi di bawah kondisi yang berlaku setempat. Namun, di tempat lain di alam alam semesta, pada waktu yang lain dan pada kondisi yang lain, satu ‘hari’ bisa mengacu pada periode waktu yang lebih panjang. Bahkan, kata ‘ayyam’ dalam ayat ini tidak hanya berarti ‘hari’, tetapi juga ‘masa’, ‘periode’, ‘momen’, atau pun ‘kurun’.

Terjadinya perbedaan waktu antara periode pertama alam semesta hingga saat ini disebabkan karena saat ledakan Big Bang terjadi pengembangan dan peningkatan volume alam semesta yang meluaskan batasan alam semesta menjadi jutaan tahun cahaya yang mana efeknya melambatkan aliran waktu universal hingga satu juta kali dari waktu yang dirasakan sekarang. Atau dengan kata lain, satu juta menit di Bumi sama dengan satu menit waktu universal. Dan pada akhirnya, jika mengacu pada teori tersebut berarti enam hari dihitung menurut relativitas waktu sama dengan enam juta juta (enam triliun) hari. Atau sama dengan jika dihitung dalam ukuran tahun, 6 triliun hari sama dengan sekitar 16.427 milyar tahun yang tentunya masih dalam selang usia alam semesta yang diperkirakan di atas, yaitu 16 hingga 17 milyar tahun.

Satu contoh tentang keselarasan Al-Qur’an dengan sains modern adalah permasalahan usia alam semesta. Para ahli kosmologi memperkirakan usia jagat raya adalah 16-17 miliar tahun. Al-Qur’an menyatakan bahwa seluruh alam semesta diciptakan dalam enam hari. Dua kurun waktu ini, yang tampaknya bertentangan, secara tidak terduga saling bersesuaian. Kedua angka yang menunjukkan usia alam semesta ini sama-sama mengandung kebenaran. Dengan kata lain, alam semesta diciptakan dalam enam hari, sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur’an dan periode ini sama dengan 16-17 miliar tahun dalam hitungan manusia.

Energi pada saat Big Bang melambatkan aliran waktu 1012 (satu juta) kali. Ketika alam semesta diciptakan, kecepatan waktu universal lebih tinggi hingga satu juta kali dari waktu yang dirasakan sekarang. Dengan kata lain, satu juta menit di Bumi sama dengan satu menit waktu universal. Ketika periode enam hari dihitung menurut relativitas waktu, artinya sama dengan enam juta (enam triliun) hari. Itu karena waktu universal mengalir satu juta lebih cepat daripada waktu Bumi. Dihitung dalam ukuran tahun, 6 triliun sama dengan sekitar 16.427 miliar tahun. Angka ini masih dalam selang usia alam semesta yang diperkirakan.

Kesimpulan, ketika enam hari penciptaan, dengan kata lain enam fase, dijumlahkan dalam standar waktu Bumi, hasilnya adalah 15 miliar 750 juta tahun. Angka ini masih dalam selang perkiraan usia alam semesta yang diperhitungkan para ilmuwan modern. Kesimpulan ini adalah salah satu fakta yang diungkapkan dengan ilmu pengetahuan abad ke-21. Sains sekali lagi menegaskan fakta dalam Al-Qur’an 14 abad lalu. Keselarasan antara Al-Qur’an dan sains merupakan bukti ajaib bahwa Al-Qur’an merupakan firman Allah, Sang Maha Pencipta dan Mahakuasa.

HARAMNYA MINUMAN KERAS DAN PERJUDIAN


Terkait ayat 219 surah al-Baqarah 
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
"Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir."

Sebuah hadis meriwayatkan bahwa Thariq bin Suwaid Al-Ju'fi pernah bertanya kepada Nabi saw. mengenai khamr, maka beliau pun melarangnya atau benci membuatnya." Lalu dia berkata, "Saya membuatnya hanya untuk obat." Maka beliau bersabda: "Khamr itu bukanlah obat, akan tetapi ia adalah penyakit.”

Ajaran Islam yang begitu tertata juga ditunjukkan dalam Al-Qur’an yang mana larangan minum khamr dilakukan secara bertahap hingga akhirnya menjadi terlarang secara mutlak dan kemudian dari hadits di atas juga menjadi penguatnya. Larangan tersebut bukanlah tanpa alasan, sebab dalam berbagai hasil riset membuktikannya, seperti University of Maryland Medical Center mengungkap bahwa penggunaan alkohol bisa menyebabkan penyakit hati kronis, seperti fatty liver yang 90 persen penderitanya pengguna alkohol. Selain itu, komsumsi khamr dapat menyebabkan kerusakan otak, ginjal, saluran pencernaan, luka pada organ tubuh, peningkatan tekanan darah dan detak jantung, kebekuan jaringan otak, serta melemahkan metabolisme tubuh sehingga mudah terserang penyakit dan banyak lagi akibat lainnya. Dan bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menyatakan bahwa konsumsi minuman keras merupakan masalah klinis terbesar di dunia yang dapat menghambat peningkatan kualitas kesehatan, sosial dan ekonomi serta menjadi bahaya terbesar dalam bidang klinis yang sangat merusak kesehatan.

Sumber:http://buktiilmiahalquran.blogspot.co.id/2014/04/rahasia-di-balik-pengharaman-minuman.html
http://tafsirq.com/2-al-baqarah/ayat-219